
Gelombang panas ekstrem mulai dirasakan di Tanah Suci menjelang puncak pelaksanaan ibadah haji 2026. Suhu udara di Makkah diperkirakan menembus 43 derajat Celsius, sehingga jemaah diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas pada siang hari.
Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah, Maria Assegaff, mengimbau para jemaah untuk menyesuaikan pola kegiatan harian agar terhindar dari paparan panas berlebih, khususnya ketika hendak beribadah di area Masjidil Haram.
Menurutnya, pengaturan waktu keberangkatan menuju masjid sangat penting agar jemaah tidak terlalu lama berada di bawah terik matahari. Penggunaan alat pelindung diri seperti payung, topi, dan perlengkapan penahan panas juga dianjurkan.
Utamakan Ibadah di Pagi atau Malam Hari
Jemaah disarankan menghindari aktivitas fisik berat saat suhu sedang berada di titik tertinggi. Waktu pagi maupun malam hari dinilai lebih aman dan nyaman untuk menjalankan ibadah dibandingkan siang hari yang panas menyengat.
Selain itu, konsumsi air putih perlu ditingkatkan guna mencegah dehidrasi. Jemaah juga diminta lebih peka terhadap kondisi tubuh masing-masing karena suhu tinggi dapat memicu kelelahan, pusing, hingga gangguan kesehatan lainnya.
Apabila mengalami keluhan kesehatan, jemaah diminta segera melapor kepada petugas agar penanganan medis dapat dilakukan dengan cepat.
Pemerintah memastikan layanan kesehatan tetap disiagakan untuk mendukung keselamatan jemaah selama beribadah. Imbauan juga terus diberikan agar seluruh jemaah tetap tertib, mengikuti arahan petugas, serta menjaga kekhusyukan ibadah di tengah cuaca ekstrem.
Berdasarkan data AccuWeather, suhu siang hari di Makkah dalam 10 hari ke depan diperkirakan berada pada kisaran 39 hingga 43 derajat Celsius. Pada Senin (4/5), suhu diprediksi mencapai puncak tertinggi di angka 43 derajat Celsius.
Sumber: himpuh.or.id

Tinggalkan Balasan