By

Published on

Praktik Tiket Saudia “By Miles” Kembali Disorot, Jemaah Diingatkan Waspadai Risikonya


Praktik penjualan tiket pesawat Saudia dengan skema “menggunakan miles” kembali menjadi sorotan publik setelah ramai diperbincangkan di media sosial. Perbincangan ini mencuat usai beredarnya tangkapan layar percakapan yang menunjukkan adanya tiket yang dibatalkan maskapai karena terindikasi berasal dari akun miles yang terlibat aktivitas mencurigakan atau fraud.

Fenomena tersebut menjadi perhatian khusus, terutama bagi calon jemaah umroh dan pelaku usaha travel yang kerap tertarik dengan penawaran tiket berharga jauh di bawah tarif normal.

Berdasarkan berbagai diskusi yang beredar di media sosial dan komunitas daring, tiket dengan skema “by miles” sering ditawarkan dengan harga yang lebih murah dibandingkan pembelian reguler. Untuk rute Jakarta–Jeddah pulang-pergi misalnya, tiket disebut-sebut dijual pada kisaran Rp10–12 juta, bahkan ada yang ditawarkan dengan harga lebih rendah.

Skema yang banyak dibicarakan biasanya melibatkan penggunaan miles dari sumber yang tidak jelas, kemudian dipindahkan ke akun program loyalitas atau digunakan langsung untuk menerbitkan tiket atas nama pembeli. Dalam beberapa kasus, terdapat pula praktik pemberian akses ke akun loyalitas milik pihak lain untuk kebutuhan pemesanan tiket.

Muncul berbagai pertanyaan dari calon pembeli mengenai asal-usul miles tersebut. Sebab, jumlah miles yang tersedia dinilai tidak wajar dan terus tersedia dalam jumlah besar, padahal program promo resmi biasanya memiliki keterbatasan kuota dan periode tertentu.

Di sisi lain, ketentuan program loyalitas maskapai secara umum memiliki aturan yang cukup tegas terkait penggunaan dan transaksi miles. Penjualan maupun pembelian miles secara tidak resmi dapat dianggap melanggar syarat dan ketentuan program yang berlaku.

Meskipun transfer miles antaranggota dapat dilakukan dalam batas tertentu sesuai aturan yang ditetapkan, praktik penggunaan miles dari pihak lain untuk kepentingan komersial di luar mekanisme resmi berpotensi menimbulkan masalah di kemudian hari.

Kekhawatiran semakin meningkat setelah beredarnya kasus yang diklaim menunjukkan adanya tiket dengan catatan sistem bertuliskan “redeemed from fraud accounts”. Informasi tersebut mengindikasikan bahwa tiket diterbitkan menggunakan miles yang berasal dari akun yang terdeteksi bermasalah.

Dalam kasus yang beredar, tiket dilaporkan dibatalkan oleh maskapai dan tidak dapat dikembalikan dananya. Akibatnya, calon penumpang berpotensi mengalami kerugian karena dana yang telah dibayarkan tidak bisa diklaim kembali.

Selain itu, sejumlah pengguna media sosial juga membagikan pengalaman serupa. Ada yang mengaku tiketnya dibatalkan pada sebagian rute penerbangan setelah proses penerbitan selesai. Namun di sisi lain, sebagian pihak masih memperdebatkan sejauh mana sistem maskapai dapat mendeteksi penggunaan miles yang tidak sesuai ketentuan.

Terlepas dari perbedaan pendapat tersebut, risiko penggunaan tiket dengan skema miles dari sumber yang tidak jelas tetap perlu menjadi perhatian.

Beberapa risiko yang dapat muncul di antaranya adalah kemungkinan pembatalan tiket secara sepihak, tidak adanya jaminan pengembalian dana, keterbatasan akses pengelolaan pemesanan, hingga ketidakpastian terkait sumber miles yang digunakan.

Bagi pelaku usaha travel, penggunaan skema semacam ini juga dapat berdampak pada kepercayaan pelanggan dan reputasi bisnis, terutama jika terjadi masalah menjelang jadwal keberangkatan jemaah.

Sebagai langkah yang lebih aman, calon penumpang maupun agen perjalanan disarankan menggunakan jalur resmi dalam memperoleh tiket, seperti promo resmi maskapai, pembelian melalui agen berizin, atau penukaran miles dari akun pribadi yang sah.

Penawaran harga yang terlalu jauh di bawah pasaran perlu dicermati dengan lebih hati-hati. Selain berisiko menimbulkan kerugian finansial, kondisi tersebut juga dapat memengaruhi rencana perjalanan yang telah dipersiapkan sejak jauh hari.

Sumber: himpuh.or.id

Discover Eventure 2025

An event for curious minds committed to the planet. Engineers, designers, educators, biologists, technologists, artists, city-makers, and activists — all working at the intersection of nature, science, and innovation to build a more sustainable future.

Join the Club

Stay updated with our latest tips and other news by joining our newsletter.

Tinggalkan Balasan