By

Published on

Haji Menggunakan Harta Haram, Apakah Tetap Sah? Ini Penjelasan Fikih Islam

Menunaikan ibadah haji menjadi cita-cita besar bagi setiap Muslim. Demi memenuhi panggilan Allah SWT, banyak orang rela menabung selama bertahun-tahun dan menunggu antrean keberangkatan yang panjang. Namun, selain mempersiapkan fisik dan mental, Islam juga mengajarkan pentingnya memastikan bahwa biaya perjalanan menuju Tanah Suci berasal dari rezeki yang halal.

Lantas, bagaimana hukum seseorang yang berhaji atau berumrah menggunakan harta yang diperoleh dari jalan yang diharamkan? Apakah ibadahnya tetap sah atau justru tidak diterima?

Perintah Menunaikan Haji dan Umrah

Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk menyempurnakan ibadah haji dan umrah sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Baqarah ayat 196. Ayat tersebut menegaskan bahwa haji dan umrah merupakan ibadah yang harus dilaksanakan dengan penuh ketaatan kepada Allah SWT, sesuai dengan ketentuan syariat yang telah ditetapkan.

Selain memenuhi syarat dan rukun ibadah, seorang Muslim juga dituntut menjaga kehalalan bekal yang digunakan dalam perjalanan menuju Baitullah.

Hukum Berhaji dengan Harta Haram

Dalam kajian fikih, para ulama menjelaskan bahwa menggunakan harta haram untuk membiayai ibadah haji hukumnya tidak diperbolehkan. Harta haram yang dimaksud meliputi kekayaan yang diperoleh melalui cara-cara yang bertentangan dengan syariat, seperti hasil korupsi, pencurian, penipuan, suap, riba, maupun bentuk penghasilan lain yang dilarang dalam Islam.

Meski demikian, mayoritas ulama (jumhur) berpendapat bahwa apabila seluruh rukun dan syarat haji telah dipenuhi, maka ibadah hajinya tetap dinilai sah dan kewajiban hajinya telah gugur. Artinya, orang tersebut tidak diwajibkan mengulang ibadah hajinya.

Namun, keabsahan ibadah tersebut tidak menghilangkan dosa atas penggunaan harta yang berasal dari sumber yang haram. Dengan kata lain, persoalan terletak pada asal-usul biaya yang digunakan, bukan pada pelaksanaan manasik hajinya.

Pentingnya Rezeki yang Halal dalam Beribadah

Islam mengajarkan bahwa setiap amal saleh hendaknya dibangun di atas sesuatu yang baik dan halal. Oleh karena itu, para ulama senantiasa mengingatkan agar setiap Muslim memastikan bahwa bekal menuju Tanah Suci berasal dari rezeki yang bersih.

Kehalalan harta bukan hanya berkaitan dengan aspek hukum, tetapi juga menjadi bagian dari kesempurnaan ibadah dan bentuk ketakwaan kepada Allah SWT.

Dampak Spiritual Berhaji dengan Harta Haram

Walaupun ibadah hajinya tetap dianggap sah menurut pendapat mayoritas ulama, menggunakan harta haram dapat mengurangi nilai dan keberkahan ibadah tersebut. Di antaranya adalah:

1. Terhalangnya Keutamaan Ampunan Dosa

Salah satu keistimewaan haji adalah diampuninya dosa-dosa sehingga seseorang kembali dalam keadaan suci seperti bayi yang baru dilahirkan. Keutamaan ini dikhawatirkan tidak diperoleh apabila ibadah dilakukan dengan bekal yang tidak halal.

2. Sulit Meraih Predikat Haji Mabrur

Haji mabrur merupakan cita-cita setiap jemaah karena balasannya adalah surga. Namun, para ulama menjelaskan bahwa kesucian sumber biaya menjadi salah satu faktor penting dalam meraih kemabruran ibadah.

3. Berpotensi Menjadi Penghalang Terkabulnya Doa

Dalam ajaran Islam, harta yang haram dapat menjadi sebab tertolaknya doa. Karena itu, seseorang yang berhaji menggunakan biaya yang tidak halal dikhawatirkan tidak memperoleh keutamaan berupa doa-doa yang dikabulkan Allah SWT.

4. Berkurangnya Kemuliaan di Sisi Allah SWT

Ibadah haji merupakan perjalanan spiritual yang sangat mulia. Datang ke Tanah Suci dengan bekal yang halal mencerminkan keikhlasan dan ketakwaan seorang hamba dalam memenuhi panggilan Allah SWT.

Bekal Terbaik Menuju Baitullah

Haji bukan hanya perjalanan menuju Makkah, melainkan juga perjalanan membersihkan hati, memperbaiki niat, dan menyucikan harta. Karena itu, setiap calon jemaah hendaknya memastikan bahwa biaya yang digunakan berasal dari rezeki yang halal dan diperoleh dengan cara yang benar.

Menunda keberangkatan demi mengumpulkan biaya dari sumber yang halal tentu lebih utama daripada berangkat lebih cepat dengan harta yang diperoleh melalui jalan yang dilarang. Sebab tujuan utama seorang Muslim bukan sekadar menunaikan ibadah haji, tetapi juga berharap memperoleh haji yang mabrur dan diterima di sisi Allah SWT.

Wallahu a’lam bishawab.

Sumber: himpuh.or.id

Discover Eventure 2025

An event for curious minds committed to the planet. Engineers, designers, educators, biologists, technologists, artists, city-makers, and activists — all working at the intersection of nature, science, and innovation to build a more sustainable future.

Join the Club

Stay updated with our latest tips and other news by joining our newsletter.

Tinggalkan Balasan