
Penyelenggaraan ibadah haji 2026 menunjukkan adanya peningkatan kualitas layanan kepada jemaah. Berdasarkan survei Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Kepuasan Layanan Haji Indonesia (IKLHI) untuk layanan di luar negeri mencapai 82,71 poin.
Meski secara umum mengalami perbaikan, kawasan Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) masih menjadi salah satu titik yang membutuhkan perhatian serius. Nilai kepuasan jemaah di kawasan tersebut tercatat 79,70 poin, menjadi yang terendah dibandingkan layanan di bandara, Madinah, maupun Makkah.
Sebagai pembanding, tingkat kepuasan layanan di bandara mencapai 84,76 poin, Madinah 82,53 poin, dan Makkah 82,59 poin.
Kepadatan Mina hingga Distribusi Konsumsi Masih Jadi Masalah
Ketua Komnas Haji, Mustolih Siradj, menilai rendahnya kepuasan di Armuzna berkaitan dengan sejumlah persoalan yang masih dialami jemaah selama fase puncak haji.
Beberapa di antaranya adalah antrean toilet, pendingin ruangan yang tidak berfungsi optimal, keterlambatan distribusi konsumsi, hingga kondisi tenda yang terlalu padat.
Menurut Mustolih, keterbatasan kawasan Mina menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan kepadatan. Kondisi tersebut terutama dirasakan jemaah yang berada di zona tertentu dengan kapasitas terbatas.
Ia mendorong pemerintah mempertimbangkan penempatan sebagian jemaah pada zona dengan fasilitas yang lebih baik. Namun, opsi tersebut tentu akan berdampak pada peningkatan biaya penyelenggaraan.
Selama belum ada perubahan signifikan terhadap tata ruang dan kapasitas kawasan Mina oleh pemerintah Arab Saudi, persoalan kepadatan diperkirakan masih menjadi tantangan dalam penyelenggaraan haji mendatang.
Tingginya Angka Jemaah Lansia Perlu Mendapat Perhatian
Persoalan lain yang menjadi perhatian Komnas Haji adalah angka kematian jemaah. Data BPS menunjukkan sekitar 36,6 persen jemaah haji Indonesia berusia 60 tahun ke atas, sedangkan sekitar 21,5 persen di antaranya telah berusia 65 tahun atau lebih.
Pada musim haji 2026, tercatat sekitar 350 jemaah Indonesia meninggal dunia. Meskipun jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, angka kematian tetap dinilai perlu menjadi perhatian serius.
Komnas Haji menilai pemeriksaan kesehatan dan penilaian istithaah perlu semakin diperkuat, terutama bagi jemaah lanjut usia serta mereka yang memiliki risiko kesehatan tinggi.
Selain itu, aktivitas jemaah selama berada di Tanah Suci dinilai perlu ditata agar tidak menimbulkan kelelahan berlebihan. Pengurangan kegiatan yang kurang esensial dapat menjadi salah satu langkah untuk menjaga kondisi fisik jemaah.
Keterlambatan Penerbangan dan Jarak Hotel Turut Disorot
Evaluasi penyelenggaraan haji 2026 juga menemukan persoalan pada layanan penerbangan. Sejumlah penerbangan pemulangan jemaah ke Indonesia dilaporkan mengalami keterlambatan hingga lebih dari enam jam.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena jemaah umumnya sudah berada dalam kondisi lelah setelah menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji.
Dari sisi akomodasi, Komnas Haji juga menyoroti sejumlah hotel yang dinilai kurang ideal, salah satunya Hotel Al-Hidayah di kawasan Aziziyah yang berada cukup jauh dari Masjidil Haram.
Jarak sekitar 13 kilometer membuat waktu perjalanan jemaah menjadi lebih panjang. Komnas Haji berharap pemerintah dapat mempertimbangkan pilihan akomodasi yang lebih baik pada musim haji berikutnya.
Kemenhaj Akan Perluas Skema Tanazul
Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menyadari bahwa layanan di Armuzna masih menjadi tantangan yang harus diperbaiki.
Menteri Haji dan Umrah Mochammad Irfan Yusuf menyampaikan bahwa salah satu langkah yang disiapkan untuk musim haji berikutnya adalah meningkatkan jumlah jemaah yang mengikuti skema tanazul.
Melalui skema ini, sebagian jemaah tidak menginap di tenda Mina, tetapi tetap berada di hotel. Pada penyelenggaraan haji 2026, sekitar 20.000 jemaah telah mengikuti skema tersebut.
Penambahan jumlah jemaah tanazul diharapkan dapat mengurangi kepadatan di dalam tenda Mina sehingga ruang yang tersedia menjadi lebih longgar dan nyaman.
Selain persoalan akomodasi di Mina, Kemenhaj juga berkomitmen memperkuat layanan kesehatan, khususnya bagi jemaah lanjut usia dan kelompok berisiko tinggi.
Kepuasan Meningkat, Evaluasi Harus Terus Dilakukan
Meningkatnya indeks kepuasan jemaah menjadi sinyal positif bagi penyelenggaraan haji Indonesia. Namun, capaian tersebut dinilai tidak boleh membuat pemerintah berhenti melakukan evaluasi.
Masih adanya persoalan di Armuzna, angka kematian jemaah, keterlambatan penerbangan, serta kualitas dan lokasi akomodasi menunjukkan bahwa masih terdapat sejumlah aspek yang perlu dibenahi.
Evaluasi haji 2026 diharapkan menjadi pijakan untuk menghadirkan pelayanan yang lebih baik pada musim haji berikutnya. Dengan perencanaan yang lebih matang, penguatan layanan kesehatan, serta pengelolaan akomodasi dan kawasan Armuzna yang lebih optimal, kenyamanan dan keselamatan jemaah dapat semakin ditingkatkan.
Penyelenggaraan haji bukan hanya tentang meningkatnya angka kepuasan, tetapi juga memastikan setiap jemaah dapat beribadah dengan aman, nyaman, dan khusyuk hingga kembali ke Tanah Air.
Sumber: himpuh.or.id

Tinggalkan Balasan