
Nusantara — Bandara Ibu Kota Nusantara (IKN) berpeluang dikembangkan tidak hanya sebagai gerbang transportasi menuju kawasan ibu kota baru, tetapi juga sebagai salah satu titik embarkasi haji dan umrah. Jika rencana tersebut terealisasi, layanan penerbangan jemaah berpotensi mencakup sejumlah wilayah di Kalimantan hingga Sulawesi.
Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono mengungkapkan bahwa pembahasan mengenai kemungkinan pemanfaatan Bandara IKN untuk penerbangan haji dan umrah telah dilakukan bersama Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf.
Menurut Basuki, jumlah calon jemaah dari wilayah sekitar IKN dinilai cukup untuk mendukung pembentukan embarkasi. Wilayah Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Selatan menjadi daerah yang berpotensi masuk dalam cakupan layanan tersebut. Bahkan, jemaah dari sejumlah daerah di Sulawesi yang memiliki akses relatif dekat dengan IKN juga dapat menjadi bagian dari rencana tersebut.
Infrastruktur Bandara Dinilai Mendukung
Peluang Bandara IKN menjadi embarkasi haji dan umrah turut didukung oleh kapasitas infrastrukturnya. Bandara tersebut memiliki landasan pacu sepanjang sekitar 3 kilometer dengan lebar 85 meter.
Dengan spesifikasi tersebut, Bandara IKN dinilai memiliki kemampuan untuk dikembangkan melayani pesawat berbadan lebar (wide-body aircraft), yang menjadi salah satu kebutuhan penting untuk penerbangan jemaah dalam jumlah besar menuju Arab Saudi.
Meski demikian, pemanfaatan bandara untuk penerbangan komersial masih menunggu perubahan status. Saat ini Bandara IKN masih berstatus sebagai bandara VVIP atau bandara khusus.
Otorita IKN menunggu penerbitan Peraturan Presiden (Perpres) yang akan menjadi dasar perubahan status bandara tersebut menjadi bandara komersial. Perubahan status ini menjadi tahapan penting agar Bandara IKN dapat membuka layanan penerbangan komersial secara lebih luas, termasuk penerbangan haji dan umrah.
Berpotensi Perkuat Akses Jemaah dari Indonesia Timur
Jika terealisasi, keberadaan embarkasi haji dan umrah di Bandara IKN dapat memberikan alternatif baru bagi masyarakat di kawasan Indonesia bagian tengah dan timur.
Selama ini, calon jemaah dari sejumlah daerah harus menuju embarkasi yang lokasinya cukup jauh dari tempat tinggal mereka. Dengan adanya titik layanan di kawasan IKN, proses keberangkatan berpotensi menjadi lebih dekat dan efisien bagi jemaah dari Kalimantan maupun wilayah Sulawesi tertentu.
Selain mempermudah akses jemaah, keberadaan embarkasi juga berpotensi meningkatkan aktivitas ekonomi dan konektivitas kawasan IKN melalui pergerakan jemaah, keluarga pengantar, transportasi, akomodasi, serta berbagai layanan pendukung.
Lion Group Pertimbangkan Bangun Fasilitas MRO
Pengembangan Bandara IKN juga mulai menarik perhatian sektor penerbangan. Lion Group disebut tengah mempertimbangkan pembangunan fasilitas maintenance, repair, and overhaul (MRO) di sekitar kawasan bandara.
Rencana tersebut merupakan pengembangan dari gagasan awal pembangunan training center milik Lion Group di IKN dengan luas sekitar 30 hektare. Konsep tersebut kemudian diarahkan untuk turut mengakomodasi fasilitas MRO.
Otorita IKN telah mempertemukan Lion Group dengan Badan Bank Tanah untuk membahas kebutuhan lahan di sekitar bandara.
Investasi di IKN Terus Berkembang
Di luar sektor penerbangan, pembangunan kawasan IKN juga terus berjalan melalui sejumlah skema pembiayaan. Pemerintah mengandalkan APBN, Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), investasi swasta, serta hibah.
Dari sektor swasta, Starbright disebut telah menanamkan investasi sekitar Rp1,25 triliun. Lebih dari 100 unit apartemen yang dikembangkan perusahaan tersebut juga dikabarkan telah dipesan.
Investasi lainnya datang dari Korea Selatan dengan nilai sekitar Rp2,5 triliun. Sementara itu, pengusaha Siswono Yudhosodo menyiapkan kawasan hunian seluas 139 hektare di belakang Istana Negara IKN. Area tersebut menjadi bagian dari rencana pengembangan kawasan sekitar 300 hektare yang juga mencakup fasilitas lapangan golf.
Sejumlah proyek pendukung lainnya turut berjalan. Taman Safari masih berada dalam tahap desain, sedangkan Indobox yang akan menghadirkan fasilitas bioskop dan kafe ditargetkan mulai beroperasi pada November 2026.
Plataran juga telah memulai proses land clearing di kawasan Sumbu Barat untuk mengembangkan area kuliner dengan konsep restoran yang mengadopsi suasana Hutan Kota GBK Jakarta.
Sementara melalui skema hibah, pembangunan Smart City Center yang didukung Korea Selatan di kawasan IKN disebut telah dimulai.
Dengan terus berkembangnya infrastruktur dan investasi, Bandara IKN berpotensi memainkan peran yang semakin besar dalam konektivitas kawasan. Apabila perubahan status menjadi bandara komersial terealisasi, peluang menjadikannya sebagai embarkasi haji dan umrah dapat menjadi salah satu fungsi strategis yang memperluas akses masyarakat terhadap layanan penerbangan menuju Tanah Suci.
Sumber: himpuh.or.id

Tinggalkan Balasan