<p>Jemaah yang kerap kehilangan arah di dalam kompleks Masjidil Haram dan Masjid Nabawi kini punya rujukan digital. Otoritas pengelola dua masjid suci merilis peta interaktif yang memuat lebih dari 950 titik lokasi dan lebih dari 100.000 kemungkinan rute, dengan antarmuka dalam tujuh bahasa.</p>
<h2>Isi petanya</h2>
<p>Peta dikembangkan General Authority for the Care of the Affairs of the Grand Mosque and the Prophet’s Mosque. Dilansir kantor berita Saudi SPA sebagaimana dikutip HIMPUH, lebih dari 950 titik lokasi itu dikelompokkan ke dalam 17 kategori, dan pengunjung dapat memilih rute menuju tujuan yang diinginkan.</p>
<p>Di Masjidil Haram, titik yang tercakup antara lain Ka’bah, Maqam Ibrahim, serta Safa dan Marwah. Di Masjid Nabawi, peta memuat Raudhah Al-Sharifah, Kamar Nabi, mihrab-mihrab tempat salat, dan mimbar Nabi.</p>
<p>Selain lewat perangkat sendiri, informasi lokasi dan layanan juga disediakan melalui lebih dari 650 kode QR serta enam layar interaktif yang dipasang di kawasan dua masjid.</p>
<h2>Artinya bagi calon jemaah</h2>
<p>Dua hal yang paling berguna di lapangan adalah pilihan tujuh bahasa dan keberadaan kode QR di lokasi. Yang pertama memperkecil kemungkinan salah baca petunjuk arah bagi jemaah yang tidak membaca Arab atau Inggris. Yang kedua berarti jemaah yang kehabisan daya baterai atau tidak menyiapkan aplikasi apa pun tetap bisa memperoleh informasi arah dari papan di lokasi, selama perangkatnya masih bisa memindai.</p>
<p>Fungsi rute juga relevan bagi kelompok yang membawa jemaah lansia. Mengetahui jalur menuju Safa dan Marwah atau pintu keluar terdekat sebelum masuk membantu mengurangi perjalanan memutar yang melelahkan di dalam kompleks.</p>
<h2>Yang belum dijelaskan</h2>
<p>Pengumuman tersebut menyebut peta dapat diakses melalui laman resmi otoritas terkait, tanpa mencantumkan alamat lamannya. Belum disebut juga apakah peta dapat dibuka tanpa koneksi internet — hal yang menentukan di dalam kompleks masjid pada jam padat — serta apakah ia terhubung dengan aplikasi Nusuk yang sudah dipakai jemaah untuk tasreh, atau berdiri sebagai layanan terpisah. Dalam pengumuman itu, otoritas tidak menyebut adanya perubahan pada pengaturan arus jemaah di lapangan.</p>
<p>Menurut pembacaan kami, selama tautan resminya belum beredar luas, kode QR di lokasi masih menjadi cara yang paling bisa diandalkan untuk masuk ke layanan ini.</p>
<h2>Sumber</h2>
<p>HIMPUH, <a href=”https://himpuh.or.id/blog/detail/5089/jemaah-tak-perlu-lagi-takut-nyasar-di-masjidil-haram-sekarang-ada-peta-digital-dengan-100-ribu-rute”>Jemaah Tak Perlu Lagi Takut Nyasar di Masjidil Haram, Sekarang Ada Peta Digital dengan 100 Ribu Rute</a>, 26 Oktober 2026, mengutip kantor berita Saudi SPA.</p>

Tinggalkan Balasan